Prestasi Surabaya Tak Bergantung Socrates Award - Tribunnews

Diposting oleh Unknown on Kamis, 08 Mei 2014

TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA - Dosen Jurusan Perencanaan Wilayah dan Kota, Institut Teknologi Sepuluh Nopember (ITS) Surabaya, Prananda Navitas mengungkapkan sebutan sebagai kota masa depan, baik untuk Surabaya maupun kota-kota lain, memiliki banyak kriteria. Masing-masing pihak dan masing-masing orang memiliki kriteria tersendiri tentang seperti apakah kota masa depan yang ideal.

Menurutnya secara tekstual dan berdasarkan literatur, salah satu kriteria paling utama adalah adanya sustainable development atau pembangunan secara berkelanjutan yang meliputi berbagai aspek.

Di antaranya adalah pembangunan manusia yang seiring dengan pembangunan perekonomian, serta seimbang dengan pembangunan lingkungan.

Europe Business Embassy (EBA) di London yang memberikan penghargaan United Europe Award kepada wali kota Surabaya, juga memiliki kriteria tersendiri. Namun pendekatan yang dipakai lembaga ini adalah pendekatan yang lebih menyentuh aspek humanisme. Meski Surabaya ternyata tidak mendapat predikat sebagai kota masa depan oleh EBA (Europe Business Embassy) dalam kompetisi Innovative City of The Future, maka itu tidak lantas berarti Surabaya gagal mewujudkan pembangunan.

"Kata kuncinya hanya satu: Selalu ada ruang untuk perbaikan. Sebab harus disadari tidak ada kota yang sempurna. Permasalahan sebuah kota terus berkembang seiring perubahan masalah sosial yang ada di dalamnya. Permasalahan sebuah kota, juga tidak bisa lepas dari para penghuninya," ungkap Prananda.

Apabila sebuah penghargaan menjadi indikator dari keberhasilan pembangunan, Surabaya seharusnya bisa dianggap berhasil sejak tahun 1980-an.

Penghargaan yang diperoleh Surabaya sudah cukup banyak. Jadi, kalau melihat jumlah penghargaannya, Surabaya bisa dibilang cukup berprestasi. Sebagai contoh, belum lama ini, Surabaya telah mendapat penghargaan The 2013 Asian Townscape Award (ATA) untuk kategori taman terbaik se-Asia dari PBB (Perserikatan Bangsa-Bangsa).

"Bayangkan, salah satu titik kecil di Surabaya saja sampai mendapat penghargaan. Selain itu juga pernah ada penghargaan lainnya seperti kampung-kampung berprestasi seperti di Banyuurip," kata Prananda.

Tentang keberhasilan pemimpinnya dalam membangun Surabaya, bisa dibilang sudah ada kemajuan. Bisa dikatakan, dari segi kepemimpinan, dua wali kota Surabaya yang terakhir sudah melakukan program-program yang saling berkesinambungan.

"Kalau dibandingkan dengan kota-kota dan kabupaten lain di Jawa Timur, tentunya Surabaya memang menjadi barometer pembangunan. Apalagi, Surabaya sebagai pintu gerbang ke Indonesia Timur. Pembangunan ini, mencakup berbagai sektor dan sifatnya berkelanjutan," katanya.

Prananda mengakui masih ada beberapa hal yang mendesak harus diperbaiki dalam pembangunan Kota Surabaya. Satu di antaranya yang cukup mendesak adalah angkutan massal yang efektif untuk warga Surabaya. Tentunya, itu hanya satu dari sekian banyak permasalahan infrastruktur yang harus dibenahi untuk kedepannya.

"Namun juga harus diakui bahwa untuk infrastruktur yang lain telah menunjukkan perkembangan yang positif. Salah satu contohnya, genangan-genangan air akibat banjir, saat ini sudah jauh berkurang dari beberapa tahun lalu. Artinya, dalam hal saluran di kota, sudah ada perbaikan meski memang masih harus ditingkatkan lagi," ujar Prananda.

"Jadi, terlepas dari ada penghargaan atau tidak, sebuah kota, agar semakin layak dihuni oleh masyarakatnya, harus senantiasa melakukan perbaikan di tengah tantangan dan perubahan yang terjadi. Selalu ada ruang untuk melakukan perbaikan," ungkapnya. (ben)

Source : http://www.tribunnews.com/regional/2014/05/08/prestasi-surabaya-tak-bergantung-socrates-award