TRIBUNNEWS.COM, SURABAYA –Surabaya benar-benar menjadi lahan empuk bisnis prostitusi. Bukan hanya di lokalisasi, bisnis haram ini juga laris di kalangan atas. Terbutki, satu persatu bisnis tersebut dibongkar polisi.
Setelah sejumlah praktik pelacuran kelas wahid dibongkar oleh Polda Jatim, termasuk prostitusi yang menyediakan para model, mahasiswa, pelajar, dan sebagainya. Ternyata bisnis dunia hitam ini tetap saja berlangsung di Kota Pahlawan.
Buktinya, petugas Subdit Renakta (remaja anak dan wanita) Ditreskrimum Polda Jatim kembali berhasil membongkar kelompok pelacuran kelas atas di Surabaya. Kali ini, anak buah AKBP Heru Purnomo mengungkap jaringan prostitusi yang dikendalikan via online.
Seorang germo dan dua pelacurnya diamankan polisi saat sedang bertransaksi di sebuah hotel di Surabaya. "Germonya sudah ditetapkan sebagai tersangka. Sedangkan dua anak buahnya diperiksa menjadi saksi," kata Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Awi Setiyono, Selasa (19/8/2014).
Germo yang ditangkap polisi itu adalah Ag, pemuda 25 tahun yang tinggal di Tegalsari, Surabaya. Dia sudah lama menjalani profesi itu, namun dalam pemeriksaan mengaku baru beberapa kali melayani pemesanan perempuan.
Dalam aksinya, Ag menawarkan gadis-gadisnya via online. Termasuk melalui jejaring social Facebook, Twitter dan Balckberry Mesenger (BBM).
Untung pelanggan, atau pria hidung belang yang sudah kerap memesan perempuan kepadanya, Ag biasa mengirimkan foto-foto gadis yang baru direkrutnya.
Namun, kalau untuk orang luar atau orang baru, dia berusaha tertutup. Ini merupakan upaya kehatian-hatian yang dilakukannya supaya tidak mudah terendus polisi.
Apalagi sejak kasus prostitusi ramai dibongkar oleh polisi, pelaku ini semakin rapi dalam menjalankan bisnisnya.
Tarif yang ditawarkan untuk gadis-gadis yang berada di bawah naungan Germo Ag biasa ditarif kisaran Rp 1 juta. Dan dia juga hanya melayani kencan di hotel berbintang. lagi-lagi, untuk alasan keamanan.
"Termasuk saat digerebek oleh petugas, pelaku juga sedang bertransaksi dengan pria yang memesan wanita-wanitanya," sambung Heru.
Sekali kencan, tarif perempuan yang disediakan Ag sekitar Rp 1 juta. Dari jumlah itu, sang germo mendapat bagian 30 persen. Sisanya, merupakan hak si PSK. Sedangkan biaya hotel dan sebagainya, ditanggung pemesan.
Selain seorang germo dan dua PSK-nya, dalam penangkapan itu petugas juga mengamankan sejumlah barang bukti.
Di antaranya, dua lembar bukti pembayaran dua kamar hotel, sebuah BlackBerry Tourch beserta kartu simnya, sebuah BlackBerry Curve beserta kartu simnya, uang Rp 1,5 juta, dan beberapa barang bukti lain, termasuk kondom.
Source : http://www.tribunnews.com/regional/2014/08/19/jaringan-prostitusi-online-di-surabaya-terbongkar