TRIBUNNEWS.COM,SURABAYA - Pitutur bener iku Sayektine apantos tiniru Nadyan weku saking wong sudro popek Lamun becik nggone muruk Iku pantes siro anggo
Pitutur jawa itu ditembangkan dengan indah oleh Kania Putri, siswi SMPN 17 Surabaya. Kania adalah salah satu peserta Festival Tembang Macapat, yang digelar di Universitas Narotama Surabaya, Sabtu (29/11/2014).
Dengan mengenakan kebaya kuning, siswa kelas 7 ini tampak percaya diri melantunkan tembang macapat, meski persiapannya hanya sehari.
"Hari Kamis saya ada lomba tembang dolanan di Taman Hiburan Remaja (THR) Surabaya, dan hari Jumat saya dikabari kalau ada lomba di sini. Jadi hanya sehari latihannya," aku ABG berparas manis ini.
Selama sehari, Kania berlatih tembang itu di sekolah dan rumahnya. Sang ibu yang mengetahui anaknya terus berdendang dari dalam kamar pun bertanya, meski kebiasaan itu juga sering dilakukan Kania sebelumnya.
Setelah mengetahui Kania akan lomba tembang macapat, sang ibu pun mendukungnya.
Memang, sejak kecil, Kania sudah dikenalkan tembang jawa oleh orangtuanya. Maklum, nenek Kania adalah mantan sinden bahkan seorang kakak Kania, juga kerap tampil macapat di hajatan-hajatan resmi.
Kania sendiri berlatih tembang macapat sejak kelas 4 SD. Dan sejumlah gelar juara pernah diraihnya seperti Juara 1 Tembang Dolanan tingkat Surabaya tahun 2012 setelah sebelumnya juata di tingkat Kecamatan Gununganyar.
"Memang tembang macapat lebih susah dibandingkan nyanyi biasa, karena banyak cengkoknya. Tetapi kalau latihan pasti bisa kok. Saya saja baru bisa cengkok setelah dua minggu latihan,"katanya.
Meski tidak ingin berprofesi sama dengan neneknya, Kania bertekat akan terus menekuni hobi yang cukup langka ini.
"Harapan saya, kesenian ini tidak hilang dan punah karena ini warisan nenek moyang," katanya.
Ivangga Dwiputra, peserta dari SMPN 12 Surabaya mengatakan tembang macapat tidak seperti bernyanyi.
"Cengkoknya lebih banyak dan banyak nada tinggi," cetus siswa yang hobi memainkan alat musik karawitan ini.
Ketua panitia festival, Andi Ontjo Wiyono menyatakan lomba ini sengaja dihelat bekerjasama dengan Javanologi Surabaya sebagai ajang pelestarian budaya.
"Kenapa macapat? Karena macapat ini adalah dasar dari tembang Jawa yang lain. Ini adalah syair yang dilantunkan tanpa nada-nada yang rumit," ujarnya.
Dosen hukum ini mengatakan, macapat cocok sebagai sarana sosialisasi dan pengakraban budaya Jawa pada generasi muda.
"Nilai pelestarian budaya yang diusung oleh Javanologi Surabaya ini, linier dengan semboyan Universitas Narotama yaitu propatriat. Ini bentuk kami melestarikan budaya bangsa," pungkasnya.
Source : http://www.tribunnews.com/regional/2014/11/29/lomba-macapat-menarik-minat-abg-surabaya